Jangan Buang Sampah Di Tempat Sampah


Jangan buat Biopori Kalau Gak Rajin!
November 4, 2010, 9:01 am
Filed under: Uncategorized

Sumpe looo…galak banget gue :P

Biasanya kata biopori bakalan sering muncul kalau deket-deket musim hujan, seperti sekarang-sekarang ini. Orang-orang akan dengan lantang berteriak menyerukan: AYOOO BUAT BIOPORI DI HALAMAN UNTUK MENGHINDARI BANJIR!

Salahkah mereka? Enggak laaaaa…seruan itu benar adanya. Tapiiiiiii…untuk yang tinggal khususnya di JABODETABEK atau daerah yang rayapnya banyak, biopori adalah sebuah dilema yang nyata!

Sebelum membahas dilema ini, ada baiknya kita tau biopori itu sejenis cemilan apa :P

Bukaaaaan…bukan cemilan :) )

Ini dari Wikipedia (maaf silahkan cari yang lain kalo rajin):

Lubang resapan biopori adalah metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Metode ini dicetuskan oleh Ir. Kamir R Brata, M.Sc, salah satu peneliti dari Institut Pertanian Bogor.

Peningkatan daya resap air pada tanah dilakukan dengan membuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos. Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang ini kemudian dapat menghidupi fauna tanah, yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah. Teknologi sederhana ini kemudian disebut dengan nama biopori.

….begitu menurut pak Wiki.

Bentuk fisik lubang resapan biopori sendiri cuman berdiameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm saja. Lubang tersebut biasanya di bor dengan alat khusus untuk mengebor lubang tersebut ( buat ibu-ibu disarankan untuk tidak mengebornya sendirian…da bongan capeeeee…ngalaman sorangan). Alatnya bisa dipesan langsung di http://www.biopori.com atau toko Trubus.

Setelah dibor, di mulut lubang lebih baik di semen atau beri potongan paralon diameter 10 cm sepanjang 10 – 20 cm saja untuk menghindari tanah yang berguguran kembali ke dalamnya, maka siaplah lubang resapan biopori kita.

Lubang ini dibuat tidak hanya satu, jarak antar lubang bisa 50 – 100 cm.

Secara bergiliran, sampah kebun (organik yaaa) berupa potongan ranting, daun kering ataupun hijau dimasukkan ke dalam lubang tersebut. Jangan di tutup! Buat apa di tutup…kan buat resapan :) ).

Ada lagi salah satu hebatnya lubang biopori ini, yaitu dapat menampung sisa sampah dapur yang tidak dapat ‘dimakan’ oleh keranjang Takakura. Yaitu berupa tulang sapi, tulang ikan, tulang ayam (kalau di rumah saya mah sudah habis sama ucing salah satu reducer terbaik heheeh), dan sisa daging. Tetapi, bila kita memasukkan sampah ini ke dalam lubang biopori kita, jangan lupa kita taburkan tanah ke dalam lubang, agar lalat tidak ikut berpesta pora di dalam lubang.

Secara perlahan dan pasti, fauna-fauna yang ada di dalam tanah akan memulai memakan dan mengurainya menjadi kompos yang bagus. Apa aja sih faunanya? Gek taaaauuuu…pokoknya itu lah :P

Yang terlihat jelas yaaa cacing tanah, yang lainnya gak kenal *lirik2 dosen sama asisten biologi sama kakak tercinta dan siap kabur*

Salah satu fauna pengurai terhebat yang tidak mengenal waktu dan memiliki kecepatan pengurai terhadap benda-benda berbahan selulosa dan paling jago membuat biopori di dalam tanah (halah panjang pisan)…tidak lain dan tidak bukan…RAYAP!

Dan dilema pun terjadilah.

Lubang resapan biopori akan berhasil apabila kita rajin memasukkan sampah organik ke dalam lubangnya secara bergantian. Dan secara berkala juga, isi lubang yang sudah menjadi kompos kita keluarkan untuk digantikan dengan sampah yang baru. Dengan demikian biopori terjaga, tanah di sekelilingnya menjadi gembur dan daya serap tanah menjadi meningkat, air hujan tidak akan langsung ‘dibuang’ ke sungai melainkan langsung diserap tanah dan akan menjadi persediaan air tanah kita.

Kalau gak rajin?

Lubang biopori yang sudah berisi kompos akan menjadi padat, rayap (jika memang daerahnya termasuk daerah rawan rayap) akan mencari makanan lain dan bertemulah dia dengan buku, kusen jendela, pintu, lemari kayu, kabel listrik (yak betul…kabel listrik terbuat dari karet…dan jangan lupa karet itu selulosa), baju, kain dan teman-temannya menjadi sasaran selanjutnya :( . Dan biopori pun menjadi kambing hitamnya :(

Makanya uyuy kasih judul “Jangan buat Biopori kalau gak rajin!”

Terus gimana?

Sama…saya juga bingung :P

Enggak ding…;)

Kalau masih punya halaman yang cukup luas, silahkan rajin berkebun. Menggemburkan tanah, menanam pohon besar, menanam sayur. Berikan kompos hasil dari takakura. Sampah kebun tetap bisa diolah dengan metoda lain. Berikan pupuk organik. Insya Allah halamannya masih cukup menyerap air hujan.

Kalau halaman rumah sempit, gak rajin, sama takut rayap? Buat sumur resapan (walau harus merogoh kocek lebih dalam). Kalau…kalau…kalau…auk ah elab…:))

Intinya…yaaa…jangan malas! heheheh

Masih bingung? Monggo diliat aja link ini http://www.biopori.com

Selamat membuat Biopori :)




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.