Diarsipkan di bawah: Uncategorized | Tag: Add new tag, global warming, kompos, pemansan global, sampah
Pertanyaan yang jawabannya gampang-gampang susah. Gampang…buang aja, habis perkara! Susah…dipilah pilih dulu, mana yang masih bisa dipakai atau di daur ulang jangan dibuang, mana yang bisa dikasih ke pemulung…sedekahkan, mana yang organik dibikin kompos, sisanya baru dibuang (atau nanti kita temukan lagi solusinya).
Lha?! Iseng banget sampah dipilah pilih. Kurang kerjaan apa? Bukannya kita udah bayar uang kebersihan dan pajak, jadi sudah bukan urusan kita lagi untuk pilah pilih sampah. Mungkin itu yang sering terlintas di benak orang. Waaaa…gak asik deh kalau kebanyakan orang punya pemikiran sempit kayak begini. Memang sudah menjadi tanggung jawab instansi terkait untuk mengelola sampah, tapi sebagai ‘produsen sampah’ bukannya lebih bijak jika kita ikut memikirkan pengurangan jumlah sampah yang kita keluarkan dari rumah kita?
Tau gak…dengan kita membiarkan sampah menumpuk pada TPS yang pada umumnya belum dikelola dengan baik, kita turut menyumbang beberapa derajat Celcius kenaikan suhu bumi? Wuih…masa sih? Emang apa hubungannya? Nyatanya hubungan antara sampah yang tertimbun dan kenaikan suhu bumi yang sekarang lagi sering disebut sebagai Pemanasan Global atawa Global Warming itu deket banget. Sayangnya hubungan mereka kurang harmonis.
Sampah yang menumpuk, tertimbun dan setiap hari selalu mendapat pasokan ’sampah segar’ tidak segera terolah dengan baik oleh alam. Jangankan bicara soal sampah plastik yang katanya baru bisa terurai setelah 1000 tahun, justru sampah organik lah salah satu pencetus utamanya. Mengapa?
Ketika sampah organik (berupa sisa makanan, sayur yang tidak terolah, sampah kebun) tertimbun begitu saja, yang diharapkan ‘mereka’ segera diurai oleh jasad renik, mikroba, jamur, protozoa, serangga, cacing dan teman-temanya. Nyatanya…mikroba dan teman-temannya pun memiliki kebutuhan lain selain ‘bahan baku’ berupa sampah organik, yaitu oksigen dan kondisi tertentu untuk ‘mengurai’ sampah organik tersebut. jika sampah organik dapat diurai dengan baik oleh alam, maka akan terjadi reaksi:
Sampah organik + Oksigen —> Kompos + Karbon Dioksida + Air + Panas
Sayangnya…yang sering terjadi bukan penguraian melainkan pembusukan. Mikroba pengurai memerlukan udara segar atau oksigen untuk tumbuh dan berkembang biak (mikroba aerob). Jika oksigen habis (karena terus menerus ditimbun sampah baru), mikroba anaerob akan mengambil alih. Mereka akan menguraikan secara lebih lambat dan menghasilkan zat metan yang beracun dan berbau busuk selain karbon dioksida. Sedangkan baik karbon dioksida maupun zat metana merupakan zat-zat yang urun rembug dalam menghasilkan ‘efek rumah kaca‘ sehingga suhu bumi meningkat beberapa derajat.
Naaah…kalau begitu adanya…pilih mana?
Mau yang gampang…langsung aja buang dengan konsekuensi yang sekarang ini kita rasain banget dampaknya? Atau mau pilih susah, dipilah pilih dulu, yang Insya Allah kita ikut memelihara bumi yang bakal tempat tinggal kita dan anak cucu kita?
Jelas pilih…pilah pilih sampah bukan…??? Gak susah kok.
No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>