Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Tertarik dengan keranjang takakura? Mari, saya lanjutkan…
Keranjang ini bisa kita buat sendiri kok. Pertama-tama siapkan bahan-bahan yang terdiri dari:
- Keranjang plastik cucian kotor (kalau bisa yang sisi2nya agak berlubang, lebih baik jangan berlubang terlalu besar) dan lebih baik yang memiliki tutup
- “Bantalan” sekam atau sabut kelapa dua buah. Sarung sang ‘bantal’ dapat dibuat dari kasa nyamuk, sedangkan bantaknya dari sekam bukan sekam bakar yah…atau dari sabut kelapa yang sudah kering kemudian dicabik-cabik. Gunanya untuk menampung kelebihan air dan mencegah lalat dan lalat buah berkembang biak di dalam komposter kita.
- Kompos halus yang bagus (beli saja yang merk trubus), kurang lebih 8 kg.
- Karton bekas. Karton ini kita buka, kemudian kita tinggikan, agar volumenya bertambah.
- Catok, penggaruk, sekop. Untuk membulak-balik sampah.
- Batu bata. Untuk penyangga komposter.
- Solder, pisau atau gunting. Untuk membuat lubang udara di dasar komposter.

Kurang lebih gambaran keranjang takakura seperti gambar di atas. Cara membuatnya:
- Lubangi dasar keranjang cucian dengan menggunakan solder, pisau ataupun gunting. Lubang ini berguna untuk sirkulasi udara, dan membuang kelebihan air dari kompos.
- Buatlah bantal dari kasa nyamuk seukuran dengan panjang x lebar dari keranjang plastik kita, bentuk seperti kantung terlebih dahulu. Kemudian isi dengan sekam, jangan sekam bakar. Atau dengan sabut kelapa kering yang sudah cicabik-cabik. Kemudian jahit mati bantal ini, sehingga isi tidak akan berceceran. Bantal dibuat dari kasa nyamuk, agar udara, air dapat melewatinya. Tetapi lalat, lalat buah akan terperangkap dan mati dalam sabut atau sekam.
- Letakkan keranjang plastik yang sudah berlubang di atas batu bata, sehingga memudahkan pertukaran udara.
- Masukkan kardus bekas ke dalam keranjang. Kardus ini juga berfungsi untuk menyerap kelebihan air yang dihasilkan dalam proses pengomposan.
- Letakkan bantalan sekam pertama ke dasar keranjang menutupi lubang di dasar keranjang.
- Masukkan kompos jadi di atas bantalan sekam pertama.
- Bantalan sekam kedua berfungsi untuk menyelimuti (kalau boleh mengambil kata2 mesranya Pak Djamaludin untuk komposter ini) kompos dan sampah organik di dalamnya. Selain berfungsi menjadi perangkap bagi serangga, bantalan ini juga berfungsi sebagai ’selimut hangat’.
- Sudah siap komposter kita.
Lalu, bagaimana cara menggunakannya? Mudah kok…
- Sampah dapur berupa sisa sayur, nasi, tahu, tempe dll (INGAT…TIDAK DIIZINKAN MELETAKKAN SAMPAH YANG BERASAL DARI HEWAN) dipotong, atau dicincang kasar. Gunanya…untuk mempermudah bakteri bekerja, karena volume sampah menjadi bertambah untuk mereka. Jika sisa makanan berasal dari sayur atau dari makanan yang memiliki kadar air tinggi, lebih baik ditiriskan terlebih dahulu. Jika sayur terdapat kaldu atau santan, sisa makanan tersebut harus dicuci dan ditiriskan terlebih dahulu.
- Kemudian keluarkan bantalan sabut pertama, masukkan sampah organik yang sudah dicincang ke dalam keranjang. Aduk-aduk dengan menggunakan catok atau sekop atau penggaruk dengan kompos yang sudah jadi sampai sampah tidak terlihat (seperti seekor kucing yang menutupi pup nya).
- Selimuti kembali kompos dengan bantalan pertama.
Gampang kaaannn…:)

Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Keranjang Takakura? Apalagi tuh? Keranjang ini bisa dibilang keranjang ajaib. Bisa menyulap sampah dapur menjadi kompos yang berkualitas tinggi. tanpa bau, tanpa lalat, tanpa belatung…bersih…rapi jali…:)
Sedemikian ajaibnya, sampai terkadang dibilang keranjang sakti. Sebenarnya keranjang ini tidak punya mantra atau sihir apapun. Keranjang ini ditemukan oleh seorang ilmuwan Jepang bernama Mr. Koji Takakura yang sengaja di datangkan untuk menyelesaikan permasalahan sampah di sebuah bantaran kali di Surabaya. Setelah satu tahun lamanya beliau melakukan penelitian, akhirnya terciplah sebuah komposter atau alat pembuat kompos yang bersih, kering, tidak berbau, mudah membuatnya dan mudah pengelolaannya.
Sebelum menggunakan Keranjang Takakura, saya sempat menggunakan komposter dengan cara anaerob. Dengan hanya menumpuk semua sampah organik ke dalam sebuah drum, yang dibulak-balik setiap hari. Nyatanya…saya tidak kuat untuk meneruskan proses pembulak-balikan sampah pada komposter anaerob tersebut. Karena, komposter ini membuat sampah kita menjadi bau, berlendir dan menjadi incaran lalat dan binatang kecil lainnya. Walau banyak yang meng-klaim bahwa komposter ini selain menghasilkam kompos, juga menghasilkan pupuk cair dan bahkan umpan atau pakan ikan yang baik berupa belatung putih gendut dan bersih tetapi untuk sebagian besar orang akan menjadi sebuah keengganan yang besar untuk meneruskannya.
Berbeda dengan komposter anaerob yang menggunakan bakteri anaerob, Keranjang Takakura menggunakan bakteri aerob yang didapat dari starter kitnya. Biasanya sampah organik setelah dimasukkan ke dalam keranjang takakura ini akan segera diurai oleh bakteri tersebut. Terlihat dari uap air yang menempel pada tutup keranjang dan rasa panas ketika kita meletakkan tangan di atas tumpukan sampah tersebut. Mengapa demikian? Karena bakteri aerob mengubah sampah dengan menggunakan oksigen menjadi kompos, air, CO2 dan panas.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Pernah denger atau baca ReUse, ReDuce dan ReCycle? Jelas sering yah? Tapi benernya gimana sih penerapannya?
ReUse…biasanya slogan ini dipakai untuk menggunakan kembali barang2 yang tidak terpakai. Misalnya, kaleng-kaleng bekas disulap menjadi pot2 cantik. Dengan sedikit kreatifitas dan kemauan…banyak yang bahkan bisa menjadikan sampah menjadi mata pencahariannya.
ReDuce…emmm…yang saya tangkap, ini salah satu cara mengurangi sampah yang ada. Contoh…tulang sisa sebelum di ReCycle lebih baik kita berikan ke kucing dulu hahhaha…selain me-ReDuce kita juga me-ReUse nya.
ReCycle…daur ulang. Sampah di daur ulang menjadi benda yang lebih berguna.
3R inilah yang bakal berperan besar dalam kebingungan kita setelah mengelompokan sampah ke dalam 8 kategori.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Banyak orang sekarang pasti sudah mulai memiliki keinginan menjadikan rumahnya menjadi rumah yang tidak mengeluarkan sampah lagi atau “Zero Waste“. Lalu…apa kiranya yang harus dilakukan untuk memulainya?
Yang jelas…ini memerlukan konsekuensi yang tinggi dari niat yang sekadar niat menjadi langkah yang nyata. Membutuhkan mental yang kuat, terlepas dari kemalasan yang akan melanda di kemudian hari. Wah….wah…sepertinya repot ya? Tidak bisa dipungkiri, memang kita akan menjadi sedikit lebih repot dari biasanya.
Dulu kita makan tidak habis, langsung kita buang ke dalam keranjang sampah yang ada di dalam rumah. Buka belanjaan, plastiknya kita simpan untuk dipakai menampung sampah kita di lain hari. Setelah melakukan apapun yang akan menghasilkan sampah, tanpa harus berfikir lebih lama, langsung masuk keranjang sampah.
Mulai sekarang…kebiasaan dari kecil itu harus kita rubah total. Kita mulai dengan PILAH PILIH SAMPAH.
Biasanya sampah dibagi ke dalam 2 golongan atau paling tidak menjadi 3 golongan. Ada yang sampah basah dan sampah kering. Sampah Organik, Non-Organik dan Kaleng. Ada berbagai cara untuk memilahnya. Laluuu…setelah dipilah memangnya mau di apain? jatuhnya dibuang juga ke depan rumah. Kecuali lingkungan rumah sudah memiliki pengolahan sampah terpadu, jelas ini tindakan sia-sia.
Jadi…sebelum kita memilah milih sampah, alangkah lebih baik kita juga sudah harus memikirkan proses apa yang akan kita pilih setelah sampah ini dipilih.
Di sini, saya akan mencoba membagi sampah kedalam beberapa kategori:
- Sampah Dapur berupa: air sisa cucian beras, cucian daging, ikan, sayur, sisa teh, kopi,sirup
- Sampah Dapur berupa: sisa potongan sayur, kulit bawang, kulit buah, nasi, tempe, tahu dan semua yang berasal dari tanaman.
- Sampah Dapur berupa: sisa daging sapi, daging ayam, ikan, minyak, kulit telur, tulang sapi dan tulang ayam
- Sampah Plastik berupa: plastik bekas pembungkus, botol plastik dll
- Sampah Kertas berupa: koran bekas, majalah bekas, undangan, kalender dll
- Sampah Kaleng berupa: kaleng minuman dll
- Sampah Kebun berupa: rumput, daun2 kering, ranting, bunga, buah
- Sampah Kategori B3 atau Sampah Berbahaya berupa: bekas pembalut wanita, anak2 dan orang dewasa, baterai, dll
Wuiiih…banyak banget…:) jadi males gak siiiih….Enggak kok…benerrr…Karena setelah pengelompokan ini, semua akan menjadi lebih mudah. Jangan patah semangat dulu. Baca kelanjutan kisahnya…:)
Diarsipkan di bawah: Uncategorized | Tag: Add new tag, global warming, kompos, pemansan global, sampah
Pertanyaan yang jawabannya gampang-gampang susah. Gampang…buang aja, habis perkara! Susah…dipilah pilih dulu, mana yang masih bisa dipakai atau di daur ulang jangan dibuang, mana yang bisa dikasih ke pemulung…sedekahkan, mana yang organik dibikin kompos, sisanya baru dibuang (atau nanti kita temukan lagi solusinya).
Lha?! Iseng banget sampah dipilah pilih. Kurang kerjaan apa? Bukannya kita udah bayar uang kebersihan dan pajak, jadi sudah bukan urusan kita lagi untuk pilah pilih sampah. Mungkin itu yang sering terlintas di benak orang. Waaaa…gak asik deh kalau kebanyakan orang punya pemikiran sempit kayak begini. Memang sudah menjadi tanggung jawab instansi terkait untuk mengelola sampah, tapi sebagai ‘produsen sampah’ bukannya lebih bijak jika kita ikut memikirkan pengurangan jumlah sampah yang kita keluarkan dari rumah kita?
Tau gak…dengan kita membiarkan sampah menumpuk pada TPS yang pada umumnya belum dikelola dengan baik, kita turut menyumbang beberapa derajat Celcius kenaikan suhu bumi? Wuih…masa sih? Emang apa hubungannya? Nyatanya hubungan antara sampah yang tertimbun dan kenaikan suhu bumi yang sekarang lagi sering disebut sebagai Pemanasan Global atawa Global Warming itu deket banget. Sayangnya hubungan mereka kurang harmonis.
Sampah yang menumpuk, tertimbun dan setiap hari selalu mendapat pasokan ’sampah segar’ tidak segera terolah dengan baik oleh alam. Jangankan bicara soal sampah plastik yang katanya baru bisa terurai setelah 1000 tahun, justru sampah organik lah salah satu pencetus utamanya. Mengapa?
Ketika sampah organik (berupa sisa makanan, sayur yang tidak terolah, sampah kebun) tertimbun begitu saja, yang diharapkan ‘mereka’ segera diurai oleh jasad renik, mikroba, jamur, protozoa, serangga, cacing dan teman-temanya. Nyatanya…mikroba dan teman-temannya pun memiliki kebutuhan lain selain ‘bahan baku’ berupa sampah organik, yaitu oksigen dan kondisi tertentu untuk ‘mengurai’ sampah organik tersebut. jika sampah organik dapat diurai dengan baik oleh alam, maka akan terjadi reaksi:
Sampah organik + Oksigen —> Kompos + Karbon Dioksida + Air + Panas
Sayangnya…yang sering terjadi bukan penguraian melainkan pembusukan. Mikroba pengurai memerlukan udara segar atau oksigen untuk tumbuh dan berkembang biak (mikroba aerob). Jika oksigen habis (karena terus menerus ditimbun sampah baru), mikroba anaerob akan mengambil alih. Mereka akan menguraikan secara lebih lambat dan menghasilkan zat metan yang beracun dan berbau busuk selain karbon dioksida. Sedangkan baik karbon dioksida maupun zat metana merupakan zat-zat yang urun rembug dalam menghasilkan ‘efek rumah kaca‘ sehingga suhu bumi meningkat beberapa derajat.
Naaah…kalau begitu adanya…pilih mana?
Mau yang gampang…langsung aja buang dengan konsekuensi yang sekarang ini kita rasain banget dampaknya? Atau mau pilih susah, dipilah pilih dulu, yang Insya Allah kita ikut memelihara bumi yang bakal tempat tinggal kita dan anak cucu kita?
Jelas pilih…pilah pilih sampah bukan…??? Gak susah kok.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Sampah… sampah… sampah…
Eits…jangan salah…rumah ku bersih, gak ada sampah. Gak bau, gak ada laler, gak ada belatung, gak ada tikus. Sampah? Jelas gak akan ditemukan di rumahku. Mungkin kebanyakan dari kita akan berbicara seperti itu. Ya iya lah…wong sampahnya cuman ditaro di kresek, diikat rapih, taro di depan rumah, langsung dibawa sama petugas kebersihan RT/RW setempat buat dibawa ke suatu tempat yang kita sendiri gak tau dimana letaknya. Ke mana kek…gak peduli lah, yang penting, jauh-jauh deh dari rumahku…:-)
Lalu? Pernah kepikiran gak, gimana rasanya jadi warga yang tinggal dekat tempat pembuangan sampah kita? Enggak! (Bohong kalau bilang kepikiran hehehe). Pernah kepikiran gak, berapa banyak sampah yang keluar dari rumah kita? Rasa-rasanya jawabannya gampang aja…enggak! Atau…jawabannya…dikit kok, cuman satu atau dua kresek per hari (kalau lagi gak ada kejadian apa-apa di rumah), dikit kan. Hemmm…mau coba berhitung mudah? Jika kita membuang sampah satu hari sebanyak satu kresek, maka dalam satu tahun, kita membuang sampah sebanyak 365 kresek. Dikiiit…cuman satu truk…
Lha…kalau satu eR We ada 200 KK, berarti dalam satu tahun sampahnya ada 200 truk juga yah. Kalauuuu….satu hari kita buang 2 kresek? Udah ah…jadi malu…
Kalau begitu, jangan buang sampah ke tempat sampah!
Idiiih…aneh banget. Lha, mau dibuang kemana?
Ke sungai?
Wah…untuk yang satu ini jelas terlarang berat. Hareee geneee masih mau buang sampah ke sungai???
Maksudnya, sampah jangan langsung dibuang ke tempat sampah.
Gak papa kok dibilang ikut-ikutan Stop Global Warming. Emang siapa sih yang mau tempat tinggal satu-satunya manusia menjadi semakin panas. Panas dikit kekeringan, hujan dikit…kebanjiran. Jadi kudu digimanain dong sampah?